Under The Rain 1

Bold : Raka

Unbold : Rai

Di luar hujan lagi. Aku sedang menunggu hujan ini agar sedikit mereda. Karena aku harus ke tempat foto copy untuk meng-copy semua bahan kerjaan ku besok. Presentasiku besok haruslah sukses. Harus! Pukul 21.00 WIB hujan sedikit mereda, hanya sedikit gerimis diluar. Di kost’an, teman-teman yang lain sedang istirahat. Mereka juga sama, kelelahan setelah seharian bekerja. Jadi, aku harus bisa keluar sendiri tanpa mereka. Bismillah…

Sekian jam berada diluar kost’an sendirian di malam hari ditambah gerimis dan aku perawan! Agak sedikit takut sebenarnya, tapi ya harus bagaimana lagi. Jika untuk mencapai kesuksesan ku ini harus diawali dengan hal seperti ini, maka jalanilah. Itu lah prinsip ku. Entah itu bisa dibilang prinsip atau bukan, tapi aku selalu ingat kalimat itu. Aku sampai di kamar kost’an sekitar pukul 22.30 WIB. Setelah menyiapkan semua kebutuhan ku besok untuk bekerja, seperti biasa aku bersih-bersih badan mengambil wudhu, sholat Isya, minum vitamin C sebelum tidur dan berdoa berharap besok diberi kelancaran dalam segala hal-nya.

Pukul 23.40 saat aku sedang tetidur lelap, hand phone ku berdering pelan. Ada SMS. Dari kekasihku, dia cuma bilang,

“Aku baru sampe rumah nih! Capek banget! Kamu udah tidur yah?”

Itu lah sms rutin yang selalu aku dapat setiap malam. Kadang saat aku belum tidur atau saat akan telelap bahkan setelah aku terlelap. Hubungan kami sebenarnya sangat baik, kami sama-sama sibuk. Tapi aku akui, aku mulai bosan dengannya. Karena perilakunya yang sangat sama di setiap hariya, sms, isi sms, telpon, isi telpon yang sama. Bahkan setelah aku membalas sms-nya aku sudah tahu apa yang akan dia tanyakan lagi dan sudah pasti aku sudah tau apa yang harus aku jawab. Aku hanya merasa sebagai tempat menaruh absen baginya. Aku sering mengeluhkan apa yang aku rasakan ini dan ia telah berkali-kali meminta maaf dan telah aku maafkan pula sebanyak ia meminta maaf. Aku selalu bersabar, berharap ia dapat mengubah perilakunya yang terlalu manja, egois, dan tidak lagi berperlakukan aku seperti anak – anak usia labil yang ingin selalu ditanyai hal-hal yang garing buat diriku.

Saat Adzan shubuh berkumandang, saat itu pula aku harus bangun. Menyambut pagi dengan segala kesibukan ku yang telah menanti. Aku berangkat kerja pukul 06.00 WIB melewati para pedagang sayuran yang sedang bersiap-siap untuk berkeliling komplek. Disaat aku berangkat ini, dia tentu masih tertidur pulas di rumahnya sendiri. Inilah dilemma hidup yang kadang aku kesal kan, begitu sulit mengajarkan, menuntun kekasih ku untuk bangun pagi hanya untuk mendirikan sholat Shubuh saja.  Pernah aku mencoba untuk membangunkannya setiap pagi lewat telpon, beberapa hari setelah kami jadian. Tapi, apa? Aku malah dibentak olehnya, dan hal itu lah yang mengakibatkan aku malas untuk menelpon dia pagi-pagi. Karena aku paling tidak suka dibentak apalagi oleh orang yang kucintai. Meskipun ia telah meminta maaf dan berkata hal itu tidak sengaja ia lakukan, tapi bentakan itu terlalu membekas di hati ku.

Berminggu-minggu, Berbulan-bulan, akhirnya aku mendapati hal yang ku mau. Aku dipindah tugaskan ke daerah yang tempatnya dekat sekali dengan rumahku. Alhamdulillah… aku tak harus lagi mengeluarkan biaya untuk bayar kost dan biaya hidup lain. Kembali ke rumah bersama orang tua tercinta rasanya menjadi pelepas semua rasa rindu ini. Ayah, Ibu, Ade tunggu aku di rumah lusa…

Sehari sebelum kepulanganku ke rumah, aku menyempatkan diri untuk bertemu kekasih ku. Sudah lama aku pernah bilang kepadanya, bahwa aku ingin mengukir karir ku di desa ku. Aku ingin meningkatkan kualitas SDA desa ku. Jadi, jika kita harus mengalami hubungan Long distance, bagaimana? Dan dengan bijak ia bilang saat itu,

“Kita tidak perlu bertemu 1 minggu sekali, cukup 2 minggu sekali kita bertemu”

“bagaimana kita bertemu? Kamu yang ke rumah?”

“2 minggu sekali kita bergantian. 2 minggu pertama aku bisa aku yang ke rumahmu, dan 2 minggu yang kedua bisa kamu yang kesini”

“Ok. I’ll try… “

“Tapi komunikasi hand phone harus lancar”

“Iya Raka…”

Ia kian membawa motornya melaju cepat, karena saat itu gerimis mlai tidak menjadi gerimis kembali. Aku bahagia saat itu merasa telah mendapati orang yang bijak dalam hidupku. Hujan pun turun.

Aku benci ketertutupan yang tak wajar. Aku tidak suka orang yang tidak menepati janjinya (berbohong).  Karena aku akan selalu ingat orang berjanji tersebut, dan akan selalu aku tagih janjinya. Aku pun tidak suka istilah jam ngaret  di Indonesia. Aku tidak suka orang yang sering mengeluh (manusiawilah kalau orang mengeluh, tapi kalau terlalu sering apa dong namanya?) Tapi apa yang terjadi?, semua ketidak sukaan ku tersebut sekarang telah tercermin pada kekasih ku sendiri? Bagaimana bisa? Kenapa jadi begini? Aku pun jadi bingung sendiri.

Kekesalan dan kekesalan kian lama kian menjadi. Keyakinanku terhadap dirinya semakin turun. Kepercayaan ku juga semakin berkurang saat ku ketahui ia pernah ada affair dengan seorang perempuan yang aku tidak kenali, mantannya sebelum bersama aku. Sungguh, saat itu aku sangat membencinya. Aku marah sejadi-jadinya, aku menangis dan terakhir, aku menamparnya. Saat itu lah aku untuk kali pertamnya menampar seorang laki-laki. Bahkan itu adalah orang yang aku cintai. Begitu pun dengannya, itu adalah tamparan pertama yang ia dapatkan dari seorang perempuan. Perempuan yang entah ia cintai atau tidak pikir ku saat ini. Karena aku tak pernah merasa dicitai olehnya.

Saat itu aku merasakan sakit yang amat sangat, pengorbananku untuk datang ke Jakarta untuk bertemu dengannya hanya mendatangkan luka buat ku. Saat aku marah, ia tak banyak bicara juga. Sungguh, aku bingung harus melakukan apa lagi. Mata ku sembab, bahkan menjadi perih karena terlalu banyak menangis.

Saat ia sampai di rumahnya, seperti biasa. Lagi-lagi ia hanya dapat meminta maaf lewat sms. Aku tidak membalasnya. Aku terlanjur sakit hati karena ia telah mencoreng kepercayaan ku ini. 5 hari berlalu, entah kenapa untuk kesekian kalinya aku pun memaafkannya. Mungkin karena aku terlanjur mencintainya. Semua kembali berjalan secara normal.

Suatu hari aku jatuh sakit dan harus dirawat beberapa hari di Rumah Sakit. Ternyata aku harus menjalani operasi tumor pada punggungku. Aku sangat berharap ia datang, akhirnya ia datang tepat setelah aku keluar dari ruang operasi. Sebenarnya aku sempat kesal kenapa ia tidak mau berangkat pagi-pagi dari rumahnya biar ketika sampai di Rumah sakit, aku masih bisa melihatnya sebeum aku masuk ruang operasi. Tapi karena entah niatnya yang setengah-setengah atau memang merasa terpaksa dia berangkat sangat siang. Aku sangat menghargai niatnya yang telah mengambil cuti 2 hari untuk datang menjengukku. Tapi, kedatangannya yang terlalu siang mengakibatkanku illfeel juga. Sehingga aku harus masuk ruang operasi tanpa ditemani Ayah atau Ibu. Aku hanya ditemai Adikku dan nenek.

Kekesalanku berkurang ketika ia dengan baik menjaga ku malam itu. Dengan sigap ia memberiku minum, menyuapi aku saat makan. Memotongi buah yang ia bawa agar dimakan olehku. Menunggui infusanku semalaman tanpa tidur agar ia bisa tahu jika sewaktu-waktu infusan habis dan harus diganti. Saat itu aku sangat terharu, dan menyadari bahwa ia sayang pada ku. Keesokan harinya, ia membantuku duduk dalam pembaringan, menyuapi aku makan meskipun sedikit memaksa karena aku sudah merasa mual untu makan tapi dengan ucapannya akhirnya aku dapat menghabiskan semua makanan yang diberikan oleh Rumah sakit. Dalam hati aku berkata, “Tolong jangan buat aku kesal lagi, please….”

Hari itu aku diperbolehkan pulang, aku pun pulang begitupun dengannya.

Aku masih ingat kali pertamanya ia main ke rumahku. Waktu itu sebelum kami jadian. Istilahnya masihpedekate. Pengorbanannya bangun pagi demi mengantarkan ku pulang ke rumah, sungguh menjadi nilai plus bagi dia waktu itu di mataku. Padal semalam dia baru pulang dari Bandung bersama reka-rekan kerjanya. Tapi ternyata sekarang, itu adalah pertama dan terakhir kalinya dia datang ke rumahku. Janjinya untuk datang setiap 2 minggu sekali sekarang sudah tidak berlaku lagi. Malahan aku yang sealu diminta datang ke sana. Aku rela datang jauh-jauh dari rumah ke Jakarta demi untuk bertemu dengannya, itu lah salah satu hal bodoh yang aku lakukan. Akibatnya, ia melupakan ucapannya sendiri. Dia pernah berjanji mengajakku ke tempat ‘A’, ‘B’, ‘C’, membelikanku ‘D’, ‘E’, F’, hingga akhirnya dari semuanya tidak ada yang terwujud sama sekali. Aku merasa di hipnotis oleh ucapan dan perilakunya.  Sedangkan aku selalu memaklumi segala keputusannya. Padahal aku merasa sakit karenanya. Aku menangis… aku bingung harus mengadu kepada siapa lagi. Hingga hampir setahun hubungan kami, tidak ada perubahan menuju kebaikan dalam dirinya. Justru aku malah selalu menemukan keberbedaan dalam dirinya sejak aku telah jadian dengannya. Semuanya sangat berbeda. Tentang semua janji, pemikiran-pemikiran yang dulu sama denganku, kini cuma bertengger status tanpa tahu bahwa status itu masih berlaku atau tidak.

Puncak kekecewaanku adalah ketika aku datang untuk menemui dirinya di hari liburku, dan saat itu ia sedang ada dirumahnya dan ia tidak mau menemuiku meskipun hanya 1 jam saja. Dengan alasan ia kan mengerjakan skripsinya yang belum selesai padahal bertemu dengan ku 1 jam tidak akan mengahbiskan waktunya untuk mengerjakan skripsinya itu. Ia sama sekali tidak merespon niat baikku untuk menemuinya. Aku sangat kecewa. Aku bercerita kepada sahabat-sahabatku, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa dibalik kebahagiaan, senuyuman, cerita-cerita, ternyata aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. Aku menangis lagi…

Malam hari sebelum aku tidur untuk menjelang kepulanganku sendiri ke rumah besok, aku menguji dia dengan sebuah permintaan kecil.

“Besok, temui aku di depan Stasiun kota jam 09.00”

“Iya Raiii, tapi aku datangnya agak siangan-siangan dikit yah….”

Jawaban itu lah yang paling aku benci. Dan akhirnya ia menjawabnya seperti itu!

“kalo kamu telat 1 menit pun, kamu gak bakal nemuin aku di sana. Aku langsung pulang.”

“Kok kamu gitu sih Raiii???”

“Besok itu hari Minggu, aku gak bisa lama-lama disini! Perjalananku pulang pasti MACET! Besok juga aku harus kerja! Mikir dong! Aku juga minta ketemu bukan jam 7atau 8. Aku minta kamu datang jam 9! Karena aku tahu kamu pasti bangun siang! Coba yah, hargai kedatanganku ini! Pengorbanan aku selama ini untuk bisa ketemu kamu! Pertahanin kamu di hati aku! Orang yang memang sayang dengan pacarnya akan mengorbankan waktunya sebentar meskipun ia juga memiliki kepentingan. Tapi kepentingan kamu hari ini apa?!”

“—————————–”

Dan akhirnya, aku tak mendapati jawaban. Aku menangis lagi……

Keesokan harinya aku bangun pagi bersiap-siap untuk menunggu jawaban seseorang tepat di pukul 09.00 WIB ini, padahal saat itu sedang hujan dan tidur dengan keadaan diluar yang hujan sebenarnya sangat membuat aku betah berlama-lama di atas kasur. Namun hingga pukul 09.00 tidak ada lagi kabar darinya. Dan akhirnya aku yakini bahwa dia memang tidak datang. Aku menahan tangisan ku di depan sahabat-sahabatku. Mereka mencoba menghiburku, tapi air mata ini terlalu berat untuk disimpan. Akhirnya jatuh juga… Kepulanganku saat itu bersamaan dengan hujan yang sangat deras. Sepertinya langit bisa merasakan apa yang aku rasa saat itu.

……. Sedikit waktu yang kau miliki

Luangkanlah untukku harap secepatnya datangi aku

Sekali ku mohon pada mu ada yang ingin ku sampai kan, sempatkanlah….

…………….

Ku ingin marah, melampiaskan tapi ku hanyalah sendiri disni

Ingin ku tunjukkan pada siapa saja yang ada

Bahwa hatiku kecewa…

Sedetik menunggu mu disini seperti seharian

Berkali kulihat jauh diangan demi memburu waktu

Tak kulihat andaikan hadirmu yang semakin meyakini ku,

Kau tak datang …

*BCL – Kecewa*

1 hari, 2 hari, 3 hari, 1 minggu, 2 minggu berlalu tanpa ada kabar darinya. Tidak ada ucapan selamat padaku ketika aku telah menyelesaikan studiku dengan baik. Bukan aku egois tidak mau memulai mengabarinya. Tapi hal ini perlu aku lakukan untuk melihat sejauh mana ia memang sayang padaku. Bukan hanya aku yang kesal, namun sahabat-sahabatku ikut kesal mendengarkan ceritaku. Pada akhirnya, hingga minggu ke-3 ini ia tetap tidak ada kabar. Aku hanya bisa tersenyum dan berhenti berharap. Karena selama ini aku yakin, kesuksesanku bukan ada di tangan dia. Tapi ada ditangan ku sendiri. Selama ini aku berjuang sendiri, tanpa ada dia disisiku. There’s one thing that I believe. I can do anything with or without him! Teman sekaligus kakak bagiku pernah bilang “yang terpenting adalah… with or without us, it doesn’t matter

………………

Karena hati ku tak akan ku berikan

Pada kekasih yang tidak baik hati

Jadi daripada aku menunggu kesungguhan mu

Lebih baik ku pilih pergi dan cari penggantimu….

*Astrid – Tak ingin dicintai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s