Under The Rain 2 (I Love The Way You Smile)

Unbold : Sizzi

Bold     : Teguh

Hujan merintik di luar (hening). Kemacetan yang terjadi sore ini dalam perjalanan ku pulang, mengingatkan seseorang yang sedang ada di sampingku. Tangannya yang kokoh dan hangat dengan senang hati menerima peganganku yang sedang lemah kedinginan. Sama-sama terdiam karena kelelahan, tiba-tiba aku menangis teringat….

Tahun 2006…

Tidak pernah terpikir oleh ku akan memiliki teman, sahabat sebanyak ini. Khususnya laki-laki. Hmmm, kadang aku pun heran sendiri. Kenapa mereka yang menjadi sahabat ku. Jawaban yang paling singkat adalah “takdir”. Jawaban buat yang males mikir.😀

Tidak dapat di pungkiri bahwa ekskul ini yang akhirnya menjadikan kami seperti ini. Ekskul Seni. Aku tak pernah menyapa-nya, apa lagi dia. Senyum buat gue ajah susaaaaah…. Huh! Sebuah kejaiban kalau dia tiba-tiba mamerin lesung pipitnya ke gue. Ehm…. Tapi, itu lah kamu. Dingin. Tapi selalu mencuri perhatian ku. Aku mengakui bahwa aku suka caramu tersenyum.

Kekaguman ini tidak pernah berhenti sampai akhirnya aku tidak melihatnya lagi saat perpisahan SMA. Kekaguman ku terhenti tanpa ada kalimat yang dia ucapkan untuk ku. Karena dari awal, ia tidak pernah mengajakku bicara. Meskipun aku bilang ia pun sahabat ku. Sahabat yang tak pernah bicara. Selalu berbeda, dengan yang lain. Perpisahan SMA dan berlanjutnya studi aku ke kota sejuta angkot (Bogor), semakin menghilangkan jejak antara kami berdua. Kami terpisah, begitu pula dengan sahabat-sahabat.

Januari 2009 – …

Selepas SMA hingga kuliah, tidak pernah aku melupakan sosoknya. Alih-alih aku bertanya kepada sahabat-sahabat ku yang jadi sahabatnya ia pula. Jika aku tanya kabar mereka, kabar dia tidah pernah luput ku tanyakan pula. Mereka hanya bilang “dia lagi pendidikan Siz”, ku minta nomornyahand phone-nya, tapi mereka bilang juga “nomornya itu, tapi sekarang lagi mati… Gak bisa dihubungi”. Aku menerima jawaban mereka dengan hembusan nafas panjang.

Juli 2009 – …

Sejak pertama masuk kuliah, hingga tahun berganti tahun dan semua yang ada di hadapan ku selalu berganti… Diantara kebahagian dan kelelahanku yang seolah tak pernah berhenti karena tak mendapati sandaran yang pas. Masalah silih berganti, hingga beganti-ganti tempat.

Hujan deras diluar kost’an baru ku. Aku raih hand phone ku yang telah berganti lagi. Membuka daftar kontak dan…. ku dapati nomornya yang masih ku simpan dengan baik. Entah kenapa, jari-jari ini begitu refleks mengetik kalimat

“haii, apa kabar? Kemana aja Guh???”

(hening) satu detik, dua detik, tiga detik, empat…

“Alhamdulillah… dengan siapa ini???”

“Ini Sizzi”

Senyum cerah menghiasi wajahku saat itu. Aku dan dia akhirnya bisa berkomunikasi meski hanya sebatas SMS. Berbagi cerita hingga naik ke tingkat telpon. Seperti mimpi akhirnya bisa bicara dengan orang yang dulu sangat dingin terhadap ku. Setiap ada kebahagiaan, kesulitan, sebagai sahabat yang baik dia selalu menjadi tempat aku bercerita. Hingga aku sempat lost contact lagi, entah karena apa…

 

Tahun 2010…

Kami berkomunikasi lagi lewat Facebook dan akhirnya kembali di hand phone. Pernah aku berpikir, akankah kamu tetap seperti ini ketika aku ada di depan mu? Sendiri atau dengan orang lain?

 

Tahun 2011, Januari – …

I don’t want to wait for our lives to be over,

I want to know right now what will it be

I don’t want to wait for our lives to be over,

Will it be yes or will it be…sorry?

*Dido-I don’t want to wait*

Kutipan lagu Dido itu sedang jadi favorit ku. Entah kenapa aku sangat menyukainya. Dido. Aku sudah suka Dido sejak SMP. Mungkin sekarang aku sedang kangen masa-masa dulu yang cupu dan masih takut bergaul dengan teman laki-laki. Sangat berbeda dengan keadaan sekarang dimana aku sangat mudah bergaul dengan siapa saja yang aku kehendaki.

Lepas dari semua cerita di atas, kedekatan, keakraban-dia (lagi-lagi dia), tidak memberikan jawaban yang pasti buat ku. Hingga ku berhenti berharap dan membuka pintu untuk yang lain. Hingga ada orang lain yang masuk dalam pintu ini. Dia pun hilang sejenak. Dalam kehidupan ku yang baru dengan penghuni baru itu, entah kenapa dia tidak pernah lepas sdari ingatan ku. Sampai aku pernah menangis ketika dia menghapus aku dari akun-nya. Seharusnya kalau tidak boleh menangis, kenapa aku malah menangis sejadi-jadinya??? Hingga menelpon mama dan Niel sahabatku. Kalau ku sadari sekarang, karena aku mencintainya…. Sekian bulan berlalu, penghuni baru’ku pindah ke pintu lain. Aku sendiri lagi.

 

Tahun 2011, Mei – …

“Aku menyukaimu sejak lama….”

Aku menangis, dalam perjalan ku menuju kota hujan.

 

Tahun 2011, September akhir….

Aku menangis di dalam kamar,

“Sebaiknya, kita berpisah, kembali menjadi teman…”

Dia,

“——————————”

I lie awake I drive myself crazy Drive myself crazy Thinking of you

Made a mistake When I let you go baby I drive myself crazy

Wanting you the way that I do (Wanting you the way that I do)

………………………

I was such a fool I couldn’t see it Just how good you were to me

You confessed your love Undying devotion  I confessed my need to be free And now I’m left With all this pain I’ve only got myself to blame

Why didn’t I know it

(How much I loved you baby)

Why couldn’t I show it

(If I had only told you)

When I had the chance

Oh I had the chance **

*NSync-I drive my self crazy*

 

2 minggu kemudian (Oktober)….

Aku bilang,

“aku kangen kamu”

Dia,

“bisa kah kita kembali bersama?”

“Sanggupkah kamu menunggu hingga aku dapat menyelesaikan ini semua (kuliahku), hingga ku raih gelar sarjana dan mendapati pekerjaan yang dapat membuat keluarga ku bahagia?”

“Jika kamu percaya aku, akan aku tunggu”

“bila suatu hari kamu menemukan tempat yang lebih nyaman, aku ikhlaskan semua”

“sejauh ini, hanya kamu yang membuatku nyaman”

Aku menangis lagi……..

 

1 minggu kemudian ….

“aku takut….”

“jalani ajah… hadapi dengan ikhlas”

 

28 Oktober 2011,

“Gimana? Sudah?”

“Alhamdulillah… S.Pd!”

“Pulang ke rumah?”

“Besok, soalnya sekarang nunggu penutupan dulu nyampe sore”

“aku mau pulang ke rumah”

“Gak mampir dulu ke sini?”

“Besok ajah, insya allah aku paksain”

“aku tunggu”

Air mata ini menetes karena kini dia ada di sampingku. Menghangatkan hati dan tangan ku. Tanpa terasa pegangan ini harus segera berakhir. Sebelum kamu dan aku berpisah, ingin ku ucapkan “Karena aku menyukai caramu tersenyum”

 It’s so unbelievable,

And I don’t want to let it go,

Something so beautiful,

Flowing down like a waterfall.

I feel like you’ve always been,

forever a part of me.

And it’s so unbelievable to finally be in love,

Somewhere I’d never thought I’d be.

In my heart, in my head, it’s so clear now,

Hold my hand you’ve got nothing to fear now,

I was lost and you’ve rescued me some how-.

I’m alive, I’m in love you complete me,

and I’ve never been here before.

Now I see, what love means.

*Craig David-unbelievable*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s