Bulan Hijau Lumut

Pertemuan singkat dan berjalan sangat cepat

Tidak disangka aku langsung terhipnotis olehmu

Aku tersenyum sendiri di dalam kamar berukuran 4 x 4 ini. Lagu Vierra itu telah mengingatkanku pada cerita itu malam ini. Aku  jadi ingat sebuah kotak. Kotak berukuran sedang berwarna hijau lumut. Aku geser kursi belajarku ke depan lemari pakaian, kemudian aku naiki. Sambil kaki berjinjit aku biarkan tangan kananku meraih kotak berwarna hijau itu. Yeah! Akhirnya aku dapat!

Kotaknya sudah berdebu. Yeah, maklumlah sudah bertahun-tahun tidak aku buka-buka. Aku turun dari kursi dan segera mengambil kemoceng. Aku bersihkan kotak hijau itu secara perlahan, meskipun masih membuat hidungku terasa geli. Ah, akhirnya kotak ini bersih juga. Ku buka kotak itu perlahan dan aku menghela nafas. Sebagian dari hidupku pernah ada dalam kotak itu. Lagi-lagi aku tersenyum mengingatnya.

Setidaknya kamu sempat menjadi milikku

Meskipun tak lama hal itu telah membuatku bahagia….

Aku raih beberapa lembar foto yang ada. Aku lihat satu per satu dan terhenti pada foto terakhir. Satu lembar foto berukuran post card. Seperti mesin waktunya milik Doraemon, aku seperti kembali kemasa-masa itu. Tawaku di foto itu begitu lepas. Bahagia, bermain bersama kekasih tercinta pada saat itu. Ya, itu adalah salah satu foto kenangan saat aku bersama pacarku yang dulu, yang sekarang sudah dibilang mantan. Namanya Bulan. Namanya memang seperti nama perempuan, tapi memang itulah namanya. Foto itu diambil ketika aku dan Bulan sedang berada di suatu acara bersama anak-anak Tunagrahita. Aku dan Bulan berfoto dengan dua anak tunagrahita yang berbeda kelamin. Karena anak-anak tunagrahita biasanya memang lebih tertarik pada lawan jenis. Maka, aku bersama dengan Erik, dan bulan bersama Franciska. Aku memeluk Erik dari belakang dan begitu pula yang dilakukan Bulan pada Franciska.

“Bulan”

Aku mengulangi kata itu sekali lagi “Bulan”

Aku jadi ingat gombalan dia dulu, sesaat setelah pulang dari acara bersama anak-anak Tunagrahita.

Malam di Puncak Bogor bersama suhu 200C dan sinar-sinar yang berlalu lalang…

“Mi, kamu tahu kenapa aku diberi nama Bulan?”

“mungkin waktu kamu lahir bertepatan dengan pada saat Bulan muncul?”, aku jawab asala saja saat itu.

“hmmm… bukan sayaaang…”

“terus?”

“karena Tuhan telah menciptakan aku sebagai Bulan yang telahir sendiri namun hidupnya ditemani banyak bintang, dari bintang yang bersinar sangat redup sampai yang bersinar sangat terang yang menyaingi terangnya aku. Dan bintang paling terang itu adalah kamu”

Tanpa sadar aku langsung memeluk Bulan. Manisnya mengingat hal itu. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Akibat hubungan kami yang tidak direstui oleh keluarganya.

Kau buat hidupku tak berarti tanpa kamu

Kini kau menghilang dan aku terhipnotis olehmu

Dengan masalah besar yang dihadapi segitu saja perjuanganmu, untukku?

Ya, aku hanyalah seorang gadis dari desa yang mencoba mencari ilmu di perkotaan. Kota Bogor. Aku hanyalah anak seorang petani dan ibuku sebagai pegawai pabrik. Gelarku memang sarjana, tapi aku tetaplah anak kampung di depan mereka. Mereka begitu sulit menghargai jerih payahku untuk mencapai gelar ini.

Keluarga Bulan. Bulan adalah anak tunggal dari seorang ayah yang memiliki show room di Jakarta. Sedangkan ibunya adalah pengusaha catering yang cukup sukses di Bogor. Setelah beberapa cara dicoba dan akhirnya berkali-kali gagal. Bulan pun mengajakku ke Puncak, tempat pertama kali aku pernah terhanyut olehnya. Dia menatapku tajam meskipun aku melihat kepiluan dalam matanya. Dia bilang,

“Mi, kamu tahu bahwa terkadang saat malam tiba, bulan dan bintang tidak selalu hadir bersamaan. Kadang bulan datang tanpa didampingi oleh bintangnya, begitupun sebaliknya. Kau tahu kenapa?”

Aku menggelengkan kepala sambil teus menatap matanya yang mulai memerah.

“karena ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk datang, entah itu karena perputaran bumi atau salah satunya adalah karena cuaca mendung yang menghadirkan awan pekat”

Bulan berhenti sejenak dan menundukkan kepala, kemudian menatap aku kembali dan kembali melanjutkan perkataannya yang sempat terputus.

“Awan pekat itu akan terus hadir dan menghalangi pertemuan antara bulan dan Bintang, bagaimanapun caranya jika saat itu memang waktunya”

Segera aku menjawab,

“tapi gak selamanya awan hitam itu akan ada-”

“meskipun suatu hari akan hilang, dia akan kembali menutupi salah satunya. Meskipun Bulan sudah berusaha untuk selalu menemani Bintang, tapi malam tidak selalu indah setiap hari. “

Aku diam dengan mata yang berkaca-kaca.

“Mungkin Bulan memang ditakdirkan untuk sendiri. Sedangkan Bintang sudah terbisa hidup  bersama bintang-bintang lainnya. Maafkan aku Mia…”

Ku iringi langkahmu sampai ke akhir jalan

sungguh berat terasa menyadari semua

Disaat terakhirku menatap wajah itu

terpejam kedua mata dan terbang selamanya

ingin ku mengejar dirimu menggenggam erat tanganmu

sungguh ku tak rela

ku tahu kau tak tersenyum melihatku menangis

maka sekuat tenaga ku relakan saat kepergianmu

Takkan perah ku lupakan dirimu, takkan sanggup kulupakan semua … *(Vierra-Kepergianmu)

Air mataku mengalir begitu deras. Bulan mendekapku begitu keras, tubuhku terasa ringan, digin dan kaku. Aku hanya bisa diam dan menangis.

Begitu pula dengan saat ini, aku jadi menangis mengingatnya kembali. Hubungan kami hanya sampai usia 1 tahun 3 bulan. Entah dimana sekarang Bulan, sudah 4 tahun aku terpisah dengannya. Kabar terakhir yang ku dengar dari salah satu teman kuliahnya, 5 bulan yang lalu dia telah menikah dengan seorang dokter di Jakarta.

Aku bahagia mendenganya, akhirnya ia menemukan Bintang yang akan selalu menemani hari-harinya. Bintang yang akan diterima dari segala pihak. Meskipun menurut teman kuliahnya itu, Bulan masih sempat menanyakan keberadaanku pada dirinya. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.

Akhirnya, air mataku sekarang sudah mulai mengering. Aku simpan kembali foto-foto itu ke dalam kotak hijau lumut. Kembali aku simpan di atas lemari pakaian ku.

Besok adalah hari yang cukup mendebarkan dalam hidupku. Akan ada seorang lelaki yang meminangku. Mas Irwan. Ya, dia adalah kekasihku sekarang. Seorang lelaki bertubuh tegap dan tentu lebih tinggi dariku, hitam manis dan selalu terseyum. Dia hanya seorang marketing analyst. Aku pun baru bersamanya selama 9 bulan, tapi aku dan dia telah yakin dengan keputusan ini.

A whole new world 
A dazzling place I never knew
But when I’m way up here
It’s crystal clear
That now I’m in a whole new world with you
Now I’m in a whole new world with you

Unbelievable sights
Indescribable feeling
Soaring, tumbling, freewheeling
Through an endless diamond sky….* (Ost. Aladdin – a whole new world)

2 thoughts on “Bulan Hijau Lumut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s