Jingga 18 Januari

Ting!

Diantara berkas-berkas yang hilang…

Aku diam tanpa berartikan lamunan. Hanya teringat 18 Januari, 3 tahun yang lalu tepat pukul 00:01 WIB, dia bilang aku berbeda dan aku indah. Seperti berdiri di tengah taman yang bunganya sedang bermekaran, aku pun menyambutnya dengan indah. Meskipun tanpa kicau burung, meski tanpa langit yang cerah, tapi langitku serasa biru sejuk di dada. Dia simpan janji kepadaku. Aku dan dia sama dengan satu.

Berdiri kokoh meski suara bisik-bisik yang hadir menjadikanku semakin mengerti dan memahami kepribadiannya, saat itu. Dia lemparkan aku ke atas awan, menuruni pelangi, dan bersama meniup awan mendung yang sudah siap menghadirkan hujan. Dia begitu teduh. Akhirnya, dia pun memenuhi pikiranku, dan dia bilang dia juga sama.

Waktu itu terlalu singkat untuk dibuat cerita. Aku masih ingat ketika dia masih mati-matian melunakkan aku. Karena saat itu aku memang sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Tapi keseriusannya, kesungguhannya, dan intensitas komunikasi yang “over load” mengakibatkan aku sedikit membuka hati ini. Tepat pada saat itu lah, ketika dia baru saja lelah bekerja, dia bilang di sana “Aku suka kamu”. Aku bena-benar tidak terkejut dengan pernyataannya. Aku sudah menyadarinya sejak lama. Namun yang aku kejutkan karena dengan cepat aku katakana “iya” padanya. Ini semua bukan kehendakku semata. Dia mendesakku untuk segera menjawabnya, karena “ayo… jawab sekarang aja… satu menit lagi udah ganti hari lagi loh!”. Dengan sedikit agak kaku ku bilang saja iya, dan dia begitu gembira mendengarnya (sepengetahuanku begitu di hand phone). dia sampai bilang “Ini bukan mimpi kan?”, aku hanya bilang bukan namun sedikit acuh. Aku benar-benar merasa belum bisa mencintainya. Ah, biarlah… pikirku.

            Tiba-tiba ada yang memanggil namaku, si pipi ber- Chocó chip. Nina.

“Rei, gue pinjem sisir lu dong,”

Aku meraih tas kerjaku dan mengambil sisir berwarna merah, pemberian ibuku.

“Thanks Rei,”

“iyaaa…,” aku memandangi kaca mobil lagi dan di luar begitu ramai. Aku tersenyum.

>>> 

Di awal perjalanan ini apa pun yang dia jalankan selalu tampak indah di mataku. Aku semakin dibuat kagum oleh dirinya, hingga aku sempat membayangkan begitu indahnya nanti jika aku menjadi pendampingnya. Perempuan mana yang tidak bahagia melihat kekasihnya seorang pekerja keras, menyenangi olahraga, ramah, santun berbicara, sopan dalam berperilaku, dan sangat menyayangi keluarga. Aku mengerti mengapa dia begitu menyayanginya, begitupun sebaliknya. Karena dia hanyalah satu dalam keluarga itu.

Seandainya dia tahu bahwa “satu”-nya dirinya itu sering menjadi ganjalan dalam pikiranku. Ku pikir keluarganya tidak akan membiarkannya memilih pendamping yang asal-asalan. Sedangkan aku? Hanya seorang perempuan yang terlahir dalam keluarga yang sangat sederhana, berbanding terbalik dengannya dan keluarga yang bersifat sangat “konsumtif”. Tapi ucapannya saat itu membuatku semakin yakin bahwa aku memang pantas untuknya. “Orang tuaku membebaskan aku dalam memilih, jadi kamu tidak usah takut…,” aku terhipnotis oleh ucapannya.

Bulan berganti bintang berganti mentari, ucapan dan perilakunya mulai menggoyahkan keyakinanku. Sejak ia memiliki gadget baru ia mulai jarang menghubungiku. Bahasa yang dia keluarkan sama saja dari hari ke hari. Aku seperti robot yang tidak bisa berkutik, menjawab dengan jawaban yang sama dari pertanyaan yang sama. Kesopanan yang biasa dia tampakkan pun berubah menjadi serigala hitam yang siap menerkam mangsanya. Untuk pertama, kedua, ketiga, dan keempat aku selalu berpikir positif dan selalu meng’iya’kan apa yang dia mau.

Hingga suatu hari aku menemukan percakapan SMS di hand phone-nya, antara dia dengan mantannya dan adek jadi-jadian yang gak jelas asalnya darimana. Selama ini hubungan kami dilandasi dengan kepercayaan. Itu lah yang aku minta namun harus tetap terbuka meskipun kami tidak harus sampai membuka isi hand phone masing-masing. Namun, dia mengecewakan aku sore itu. Layaknya lelaki bijak yang bercerita tentang hubungan aku dengannya kepada adk jadi-jadiannya itu.  Sungguh tidak dewasa pikirku. Aku tidak pernah melarangnya berhubungan dengan siapa pun, entah itu dengan teman wanitanya, teman kerjanya, teman sekolahnya, atau bahkan adek jadi-jadiannya. Bagian yang aku tidak suka adalah mengapa urusan pribadi antara dia dan aku harus diceritakan kepada orang yang belum sepenuhnya ia kenali. Saat itu aku tidak begitu mempercayainya.

Dia mulai memperlihatkan sifat aslinya. Dia membentakku, padahal aku paling benci dibentak! Aku hanya ingin ia tetap  disayangi Allah, jadi ku bangunkan saja lewat telpon subuh itu, tapi aku malah mendapatkan bentakan keras. Saat itu pula kau tutup.

Harusnya minggu ini dia menepati janjinya, namun dia hanya beralasan saja ketika bertemu denganku. Tidak menepati janji adalah hal yang paling aku benci. Janjinya padaku terlupakan akibat sifat konsumtif dalam dirinya. Ia hanya ingat pada dirinya sendiri. Bahkan sekarang, setiap akan bertemu, dia selalu mengukur-ulur waktu (ngaret). Hal kedua yang paling aku benci.

“Oh, tuhan… tunjukan pada ku jika dia memang yang terbaik untukku….”

Itu adalah sebagian doa yang selalu aku panjatkan

Lambat laun semua hal yang aku benci ada pada dirinya semua. Mungkinkah ini sebuah pertanda dari Allah? Bahwa dia bukanlah lelaki terbaik untukku?

>>> 

“Rei, udah nyampe. Ngelamun aja lu!”

Aku baru tersadar ternyata aku sudah sampai di gedung berhalaman parkir luas ini. Mobil-mobil yang sudah terparkir jumlahnya belum begitu banyak dan keadaan di luar tidak begitu ramai, namun entahlah di dalam.

Sebelum turun dari mobil, kami semua (aku dan teman-temanku) merapihkan seluruh tampilan kami. Tapi aku hanya memperbaiki sedikit keadaan rambut dan tampilan gaun ku. Aku turun duluan dan aku merasakan dinginnya malam memang tidak ada tandingannya malam ini. Aku berkaca sekali lagi, dan sip! Aku telah siap. Begitu pula dengan ke empat temanku.

Kami berjalan beriringan, meskipun teman-temanku datang berpasangan aku tidak risih. Aku sudah terbiasa sendiri, bukan karena aku tidak memiliki pasangan tapi dia sedang tidak bisa menemaniku malam ini. Biarpun sendiri aku merasa sangat percaya diri, dengan gaun hitam sepanjang lutut yang memamerkan leher lenjang ku, dompet dan sepatu berwarna perak,  dan anting kecil di telingaku. Tiba-tiba hatiku terasa bergetar, “dulu, aku yang selalu merindukanmu. Hingga akhirnya aku berhenti berharap karena rindumu tak kunjung mencariku. Kamu tidak merindukanku.”

Aku menarik nafas panjang. Kami mulai memasuki ruangan dan aku mulai melihat beberapa foto pre-wedding. Aku tersenyum melihatnya yang tersenyum juga di dalam foto tersebut. Ternyata di dalam gedung cukup ramai. Ketika menyalami pengantin, aku mendapatkan giliran ke tiga setelah Gina dan Tedy.

“Makasih ya Gin…. Makasih ya Ted..”

Aku maju selangkah dan merapatkan masing-masing jari jemariku.

“Rei…”

Aku tersenyum, dan “selamet ya Ki, semoga menjadi keluarga yang barokah…”

“amiin. Makasih Rei… aku mau minta maaf untuk semuanya, yang dulu-dulu-“

“kamu sekarang sudah berkeluarga, gak perlu mengingat yang dulu-dulu lagi”, aku menjawab sebijak mungkin meskipun sebenarnya rasa gondok ini malah mulai meletup-letup. Eki tersenyum, dan…

“boleh aku memelukmu untuk terakhir kalinya?”

What!! Orang gila! Pikirku.

Aku malah tertawa kecil.

“maaf Ki, aku tidak mau menyakiti istrimu”

“…”

Aku meninggalkan Eki dan mulai menyalami istrinya yang terlihat sangat montok itu. aku tidak menyesal datang malam ini. Aku semakin yakin bahwa pilihanku adalah jalan yang terbaik.

>>> 

6 bulan kemudian…

“Rei, kata si Nina si Eki kan udah punya anak! Katanya sih kemaren lahirannya di César gara-gara belum waktunya lahir… anaknya cowok! Mirip banget sama si Eki. Gue jadi penasaran pengen liat. Kasian banget yah istrinya mesti di operasi gitu, gak tau ada penyakit apa gitu gue gak begitu jelas, makanya di operasi… ”

Aku tersenyum mendengar Gina membicarakan Eki. Dalam hatiku berkata “Maha suci Allah… terimakasih untuk segala petunjuk-Mu.” Hatiku bukan lagi jingga.

 Image

>>>

4 thoughts on “Jingga 18 Januari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s