Puisi Akhir Si Abu-abu Putih

Inginku bukan hanya jadi temanmu

Atau sekedar sahabatmu

Yang rajin dengar ceritamu…

Ya, benar apa kata Yopie Nuno itu. Aku akui, sudah sejak lama aku tidak hanya ingin menjadi temanmu atau sahabatmu. Jauh sebelum kita seperti ini. Sebelum kamu sedekat ini. Tapi apalah daya, wanita hanya berhak untuk dipilih, bukan memilih. Namun wanita berhak menerima dan menolak. Meski begitu, kamu tidak pernah memilihku untuk menjadi pilihanmu. Bahkan untuk sekedar menjadi salah satu pilihanmu pun tidak. Hahaaa… Perih. Sangat  menyakitkan, aku sedekat ini pun tak pernah menjadi pilihan hatimu. Akunya yang over pede untuk bisa menjadi salah satu bagian dalam pilihanmu.

Namaku Talisha, teman-teman memanggilku Ica. Begitupun dengan orang-orang rumah. Kini aku sedang menyelesaikan studiku di fakultas psikologi. Skripsiku masih dalam proses (padahal lagi mandet -_-“) entah akibat apa yang pasti mungkin karena aku sedang malas. Padahal sebentar lagi dalam perjalanan ke bab 5 nih. Haduuuuh…

Tidak banyak orang yang tahu bahwa aku gemar menulis. Meskipun tulisanku tidak serapih mereka yang benar-benar mengaku pintar menulis, tapi aku cukup senang dengan hobiku ini. Tidak banyak orang juga yang tahu bahwa ketika aku sedang berada dalam masalah (MALAS juga termasuk masalah), aku selalu mengenang masa-masa yang memalukan. Ya, masa-masa dimana aku terlihat cupu bagiku sekarang. Ababil…

Sebuah ruangan berukuran 2×3 ini cukup sembrawut. Ya… maklumlah rumahku hanya berisi makhluk-makhluk adam dan hanya aku yang menjadi Hawa tercantik disini. Ibuku sudah lama meninggalkan aku dan adikku. Beliau meninggal akibat kecelakaan Bus 2 tahun yang lalu ketika dalam perjalan pulang dari studi banding dengan rekan-rekannya. Rekan-rekannya pun bernasib sama dengan ibuku. Jadilah aku anak sulung yang pemalas yang harus menjadi contoh bagi adik laki-lakinya yang sekarang sudah duduk di kelas X STM.

Kembali ke ruangan yang penuh debu, ruangan itu ku sebut gudang. Ada sepedaku saat masih kecil yang sudah rongsok (sudah rongsok kenapa masih disimpan? Entahlah, aku juga heran!), ada tumpukan peralatan masak yang masih bagus sebenarnya dan tersimpan dalam dus (dus itu tidak pernah dibuka lagi sejak ibu tidak ada. Karena aku tidak pandai memasak pastinya), ada tumpukan dus dipojok dekat potongan-potongan ranjang besi. Ya, dus itu yang aku cari.  Angkat – turun – angkat – turun – geser – buka – dan (batuk). Tiba-tiba tenggorokanku gatal, kenapa jadi batuk begini! Batuk tak berhenti hingga kau menemukan buku bergambar tokoh anime favoritku dulu dan hingga sekarang. Inuyasha dkk. Setelah menemukan buku itu aku langsung keluar gudang dan langsung menutup gudang penuh debu tersebut. Batuk ku pun seketika berhenti. Hmm, ini batuk cuma cari sensasi ajah.

Buku itu masih utuh dan aku senang menemukannya kembali. Aku bersihkan seluruh debu yang ada pada buku tersebut dengan selembar tissue basah. Setelah bersih, aku segera mengambil posisi. Posisi yang aku ambil adalah atap rumah. Hahahaaa…. Mumpung cuaca sore ini sedang tidak begitu panas aku pun naik ke atap rumah, yang biasa dipakai tempat untuk menjemur pakaian. Pemandangannya tidak seindah ketika di atas puncak gunung, tapi cukuplah untukku melihat atap-atap rumah lain di sekelilinku yang berwarna warni bersama gedung-gedung tinggi yang terlihat sangat kecil.

Ku buka tiap lembar buku tersebut perlahan-lahan…..

Ini tentang cerita 6 tahun yang lalu. Saat aku masih bersekolah di sekolah menengah. Seragam putih abu-abu hampir sama seperti hidupku yang abu-abu putih.

Aku sangat senang bersaing. Bukan bersaing dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk pelajaran. Aku sangat berambisi menjadi seorang yang sukses. Aku selalu mengejar semuanya. Tanpa menyadari keterbatasanku sendiri sebagai manusia. Kemudian pada akhirnya, aku membenci dia.

Aku mulai mengenal dia dan dengan sekejap mambenci dia. Karena dia bisa menyaingiku dalam segala hal. Dia menyaingiku dalam hal bernyanyi, menulis, berhitung, berbahasa inggris, dan satu hal yang tak pernah aku bisa adalah melukis tapi dia bisa! Shit!

Entah mengapa aku menjadi semakin berambisi untuk mengalahkan Bachrie. Padahal sepertinya dia menganggapku biasa saja, tapi buatku dia tetap rivalku. Namun tiba-tiba saja persaingan ini menjadikan aku semakin dekat dengannya. Tapi tetap tidak mengurangi persaingan itu, malah yang terjadi persaingan ini semakin menjadi-jadi. Aku jadi semakin tahu letak kelemahan-kelemahan dia.

Semakin lama semakin dekat dan aku sendiri yang merasa kedekatan ini terasa semakin ganjil. Mungkin karena ketulusannya yang selalu membantu aku ketika aku membutuhkan pertolongannya yang akhirnya membuatku merasa tidak jelas. Kenapa aku jadi begini? Lama-lama akhirnya aku menyadari bahwa aku telah tersihir juga olehnya. Walaupun sebenarnya aku tahu dia sedang menyukai seorang gadis dan itu bukan aku.

Mungkinkah akan segera mengerti

Seiring jalannya hari

Sungguh ku tergila padamu

Yang ada bila tak juga kau sadari

Akan ku tempuh banyak cara

Agar engkau tahu semua mauku

Aku mengenal wanita yang ia suka, karena wanita itu adalah temanku sendiri dan sebenarnya temanku itu pun menyukainya. Kedekatan yang terus berlanjut antara aku dan Bachrie tidak berkurang, bahkan dia semakin sering curhat kepadaku. Aku tersenyum, aku tertawa dan aku memampang wajah dengan saran-saran yang bijak meskipun sebenarnya aku ingin sekali menangis. Aku tak ingin berkata seperti itu! Aku ingin perkataan itu dibalik!

Sampai akhirnya dia pergi meninggalkan aku dan Sekolah yang menjadi tempat pertemuan kami. Kami berpisah dan komunikasipun seketika berakhir. Dia tidak pernah memilihku karena aku tidak pernah ada dalam pilihannya.

***

Akhir …

Lihat dunia…

Mulai matahari ini terbit

Aku menyerah

Pada satu waktu yang jadi panutku

Untuk terakhir bulan bersinar

Untuk terakhir bulan mengikuti bumi

Takkan kembali menjadi bulan

Yang selalu menanti langit gelap

Yang selalu hilang oleh bentang pagi

Berusaha menjadi bintang yang terangi malam

Mencoba menjadi matahari yang menyinari gugahan hidup

Berhenti terbang

Lanjutkan yang tak terjamah

Tanpa siksa, tanpa asa

Aku diberi jiwa bukan tuk memberi

Bukan tuk jiwa yang lain

Tapi aku diberi karena

Aku ingin

Dengar semesta…

Detik ini aku tak lagi bergumam

Takkan lagi mengigau

Kan mengalir seperti biasa

Mengalir seperti adanya

Dengar dunia…

Ada isakan di sini

Namun jeritnya tak terdengar

Karena asanya hilang

Lelah menanti…

Ku tutup buku puisi itu perlahan-lahan, karena sudah mulai rusak. Aku memandanginya sekali lagi dan aku pun tertidur.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s