Sepucuk Surat Untuk Calon Suamiku

Di bawah pohon besar dan langit yang mulai gelap,

Untuk calon suamiku

……………………………….

Calon suamiku yang belum ku ketahui…

Seandainya aku dapat mengetahui siapa gerangan yang akan mendampingiku sampai akhir hayat ini, tak kan mungkin aku sisakan beberapa barisan titik di awal surat ini. Namun ketidaktahuanku akan siapa dirimu, tidak akan menghentikan tinta ini untuk terus menggoreskan garisnya.

Wahai lelaki di seberang sana …

Ketahuilah, namun sesungguhnya aku telah menantimu sebagai calon suamiku. Engkau yang selalu berangkat setiap pukul 06:00 dan kembali setiap pukul 19:00 meski terkadang engkau terlambat pulang tanpa aku tahu sebabnya mengapa. Aku tak pernah tahu apakah kamu menyadari bahwa aku selalu memperhatikanmu setiap hari. Setiap pagi, sepulang kerja dan setiap malam. Seandainya kamu menyadari jendela kamar ku tak pernah tertutup lebih awal di setiap malam, sebelum komputer di rumahmu terlihat mati dalam tatapanku. Aku yang memandangimu dari jauh, entah kau sadari atau tidak, aku yang menemanimu setiap malam ketika kau melaksanakan sholat, dan berkutat bersama komputermu tanpa tahu apa yang sedang kau lakukan saat itu. Namun, entah mengapa aku sangat senang bisa memandangimu dari kejauhan.

Engkau yang kuharap menjadi calon suamiku…

Tiba-tiba kalimat itu muncul dipikranku ketika pagi itu kita berpapasan. Langkahmu yang cepat meninggalkan aku yang sebenarnya ingin mengejar langkahmu. Kenangan saat PKL itu membuatku semakin berharap kaulah yang jadi calon suamiku. Hingga di suatu pagi yang beku kau membantuku mengambil kertas-kertas penting yang berjatuhan akibat kecerobohanku lupa menutup map warna pink yang ku bawa bersama segala keperluan PKL. Aku sangat berterima kasih dan aku menerima senyuman termanis dari orang yang tak pernah aku ketahui namanya. Akhirnya kita berangkat bersama dan aku mengenalnya. Raditya, aku memanggilnya mas Radit. Perkenalan itu sangat singkat namun begitu membekas untukku. Hingga selesai PKL, aku tak pernah melihatnya lagi. Aku tak pernah melihatnya di pagi maupun malam hari. Komputernya pun tak pernah menyala lagi. Jendela kamarku pun tak pernah ku buka di malam hari lagi.

Mas Radit…

Hari ini aku akan meninggalkan kamar ini. Kamar yang menjadi tempat persembunyianku darimu selama 4 tahun ini. Kepergianmu yang tiba-tiba menghentikan langkahku untuk mengharapkanmu. Namun bukan karena kepergianmu aku pun pergi, tapi waktuku untuk tinggal di sini memang telah habis. Aku harus kembali.

Jika masih boleh aku berharap, engkau menjadi calon suamiku…

Seandainya kau tahu bahwa perasaanku memang tak pernah utuh. Karena aku yakin engkaulah yang akan menjadikannya utuh. Terluka, tersakiti, dan terlupakan adalah salah satu bagian hidupku yang terdahulu. Namun ku yakini bahwa engkau calon suamiku yang telah di tunjuk Allah yang tidak akan melukai, menyakiti dan melupakanku.

Seandainya benar kau menjadi calon suamiku…

Sampai saat ini, aku masih menjaga seluruh amanah Allah SWT ini yang akan ku beri untukmu, hanya untukmu. Meskipun dalam perjalananku ini, aku hampir mengalami kejahatan dari seorang yang sungguh berperilaku syaitan. Audzubillahimindzalik. Alhamdulillah, aku bisa melepaskan diri dari kejahatannya dan Insya Allah, selama 24 tahun perjalanan ini setelah mengalami lika-likunya hidup ini semua yang ku miliki masih dalam keadaan utuh karena kecintaanku pada-Nya.

Calon suamiku…

Aku percaya bahwa Allah SWT akan memberikan yang terbaik bagi kehidupanku, dan hidup bersamamu pasti akan menjadi salah satu yang melengkapi kehidupanku. Aku tidak pernah memaksakan kehendakku untuk memilih tanpa keridoan-Nya, dan apabila aku memilihmu untuk menjadi calon suamiku maka Insya Allah, Allah SWT yang telah menggerakkan mulutku untuk berkata “IYA” di hadapanmu.

Calon suamiku…

Aku menyadari setiap manusia memilihi kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Aku dan kau pasti berbeda. Namun diatas semua kekuranganku ini aku percaya bahwa engkau yang akan menutupi kekuranganku  dengan kelebihanmu dan begitupula denganku. Aku yang akan menutupi kekuranganmu dengan segala yang ku miliki. Kelebihan yang kita miliki hanya semata-mata bonus untuk kita untuk bisa saling melengkapi. Kau pasti bisa menilai semuanya. Namun perlu kau ketahui, bukan ketampanan yang menjadikan engkau sebagai calon suamiku. Bukan pula kekayaan dan kedudukan yang tinggi. Namun Insya Allah, karena kecintaanmu terhadap-Nya lah yang membuatmu menjadi calon suamiku. Karena ketaatanmu dapat meyakinkan aku bahwa engkau akan dapat menemani, menuntun, mengayomi kehidupanku kelak. Meskipun aku tak mengenalmu lebih jauh aku bisa melihat dari tatapan , kebiasaanmu yang dapat aku lihat dan mendengar dari orang-orang yang begitu aku percaya mereka bilang bahwa kau begitu cinta terhadap-Nya.

Calon suamiku…

Menunggu adalah kegiatan yang semua orang yakini membosankan, menyebalkan. Namun aku berusaha bersabar menantimu datang hingga akhirnya kau datang menjadi calon suamiku.

Calon suami impianku…

Hari-hariku seperti seekor keong yang sedang berjalan, begitu merayap lambat. Saat ku hanya bisa berusaha sabar menantimu menjadi calon suamiku kemudian mengikrarkan akad yang kan menjadikanku halal bagimu. Tak ingin menodai semua proses kehidupan yang telah kita alami masing-masing, proses yang selama ini diperjuangkan agar tidak menjadi perzinahan.

Calon suami khayalanku…

Jika kau merindukaku, maka bersabarlah. Tetaplah jaga bersama aqidahmu. Istiqomah dan berakhlakul karimah. Tetap semangat dalam mencari semua penghidupan. Karena aku disini menantimu dengan sebongkah rindu dan kesabaranku. Dengan doa yang selalu ku ucap setiap usai Sholat fardhu, agar Allah SWT senantiasa selalu menjagamu, memudahkan segala urusanmu dan menjadi bermanfaat bagi kaum muslimin, tak hanya untukku.

Calon suamiku…

Siapa kah dirimu?

Is that you??!!

Air mata menetes dari mata pria tersebut. Dia benar-benar merasa menyesal. Pencariannya berakhir hari ini, dan ia tidak dapat menemukannya lagi. Dialah Raditya. Orang yang selama ini ia cari adalah penulis surat tersebut. Rena, si gadis jendela.

***

Tanpa Rena tahu sebenarnya Radit juga sering memperhatikannya di setiap malam, akibat jendela kamarnya yang tak pernah ditutup setiap malam. Tak pernah ada perasaan yang timbul hingga Radit pun berkenalan dengan Rena. Namun entah mengapa, sejak Radit memutuskan untuk resign dari kantornya yang berujung kepindahannya ke kota Surabaya, tak pernah sekalipun ia lupa dengan gadis jendela malam itu. Di tempat tinggalnya yang baru, ia sering memandangi jendela kamarnya setiap malam dan tak pernah mendapati lagi tetangga yang selalu membuka jendela di malam hari. Kadang Radit juga berpikir, apakah ini yang namanya merindu? Namun Radit tidak meyakini hal itu. Ia pun terhanyut dengan kesibukannya di kantor yang baru bersama rekan-rekan barunya juga.

Suatu hari Radit teringat pesan ibunya agar segera menikah karena orang tuanya yang semakin tua sangat ingin melihat anak bungsunya ini bisa menikah. Ibunya bilang “Dit… maut memang hanya Gusti Allah yang tahu, jadi mumpung abi dan umi masih ada umur segeralah kamu menikah. Usia mu sudah cukup matang untuk meminang seorang wanita. Umi dan Abi tidak akan menyulitkan, kami serahkan semuanya kepada pilihanmu. Karena umi yakin, kamu pasti bisa menemukan yang baik untukmu.”

Mengingat pesan ibunya di lebaran kemarin, malam harinya Radit pun mendirikan sholat malam sembari berdoa berharap keinginan orang tuanya dapat terlaksana secepatnya. Beberapa kali mendirikan sholat malam, bulan pun silih berganti namun Radit belum juga menemukan pasangan yang cocok untuk dirinya. Hingga suatu malam ketika ia baru saja mendirikan sholat isya, ia melihat jendela kamarnya terbuka. Sosok gadis jendela malam itu pun langsung datang dalam benaknya. Rena, ya! Rena! Radit langsung memesan tiket lewat website dan keesokan harinya di kantor ia meminta cuti 1 minggu. Saat pulang kerja ia langsung bergegas membawa beberapa baju dan segera berangkat ke bandara. Ia berangkat menuju Bandung.

Di rumah kerabatnya ia menginap malam itu. Keesokan harinya pagi-pagi sekali Radit berangkat menuju sebuah kos-kosan. Bukan menuju kos-kosan bekas ia dulu tempati, tapi kosan khusus wanita. Ya, kosan yang terletak di depan kosan ia dulu. Beruntung, saat itu sedang ada wanita yang sedang membeli bubur untuk sarapannya pagi. Radit langsung menghampiri wanita itu,

“permisi,..”

“ya?”

“adek yang tinggal di kosan ini?”

“betul, ada apa ya?”

“maaf sebelumnya, saya mau bertanya apakah Rena ada di dalam?”

“Mbak Rena? Mbak Rena sudah kembali ke tempat tinggalnya tuh mas…”

“sejak kapan? Memang tempat tinggalnya dimana? Adek tau?”

“sudah lama mas… sejak mbak Reren lulus saja. Sekitar 2 tahun yang lalu. Aku gak tau tepat rumahnya dimana, yang aku tau mbak Reren itu asli orang Malang. Memang mas ini siapa yah?”

“saya temannya. Nama saya Radit, yang duu pernah ngekos juga di depan” (kecewa)

“ooo…. Ini toh yang namanya Radit. Mbak Reren sering banget nyebut nama itu, katanya yang tinggal di kosan depan.  Mas tau? Mbak Reren itu sudah lama sering memperhatikan mas. Makanya setiap malam jendela kamarnya pasti kebuka. Kalian per-“ (terputus)

“dek, tau nama kedua orangtuanya?” (penuh harap)

“eh kalo gak salah nama orang tuanya itu Pak Sutomo dan Bu Retno. Kenapa?”

“kira-kira di kosan ini masih ada orang yang kenal dekat dengan keluarga Rena gak?”

“ada. Namanya Teh Hana. Sebentar aku panggil dulu. Mas tunggu saja disini. Silahkan duduk”

30 detik …

1 menit …

2 menit…

Munculah seorang wanita dengan pakaian tertutup.

“Eh, Radit! Kemana aja lo!”

“Hana! Gue sekarang di Surabaya Na. gimana kabar lo?”

“alhamdulilah Dit. Eh, lu ada perlu apa sama Rena? Suka yah lo? Hahaa”

Radit menyeringai sambil menunduk.

“ah… gue tau jawabannya dari muka lu… oke-oke, apa yang bisa gua bantu?”

“gue mu minta alamat rumah Rena”

“oke. Gue tulis dulu yah.” Hana menuliskan alamat rumah Rena kemudian memberikannya kepada Radit. Dengan wajah yang sumringah penuh harapan Radit menerimanya.

“thanks banget yah Na.”

“sama-sama. Lu mau kesana?” tanya Hana. Radit tersenyum.

“akhirnya… penantian Rena terjawab juga. Asal lu tau yah, udah dari lama Rena sering nanyain tentang elu ke gue!”

Seperti mendapat sambutan hangat yang masuk ke dalam hati Radit. Radit pun semakin yakin dengan pilihannya.

“pokoknya thanks banget untuk informasinya Na.

“sama-sama. Salamkan juga dari kami kalo lu ketemu Rena. Rena itu cewek yang baik.”

“pasti. Makasih. Gue pamit! Salam buat anak-anak HRD. Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam”

Radit berjalan menuju jalan raya.

“Rena, kau selama ini ternyata ada di Malang. Aku di Surabaya. Kau ternyata tak pernah jauh dariku.”

***

Tok tok tok…

“Assalamualaikum…”

Terdengar jawaban dari dalam “Waalaikumsalam…” suara seorang pria. Pintu pun terbuka.

“ada yang bisa saya bantu?”

“oh, maaf. Apa betul ini dengan kediaman bapak Sutomo dan bu Retno?”

“Iya, betul. Saya yang bernama Sutomo. Maaf ada keperluan apa? Sepertinya saya belum pernah mengenal anda…”

“Oh ya, anda memang tidak mengenal saya.” Radit mengulurkan tangandan mengenalkan siapa dirinya.

“Saya Radit. Dulu saya bertetanggaan dengan Rena. Kosan kami memang saling berhadapan. ”

“ooh…” pekik Pria tua itu. Radit memamerkan giginya yang berbaris rapih.

“Rena apa kabar pak? Renanya sekarang ada?”

Mata pria tua itu pun seketika berkaca-kaca.

“Masuklah nak…” Radit masuk ke rumah itu. Rumah dengan model tempo dulu dan hiasan-hiasan yang ada masih tidak meninggalkan bekas-bekas jajahan Belandanya.

“Silahkan duduk” pinta bapak itu kepada Radit. Radit pun duduk.

”Tunggu sebentar ya nak…”

“baik pak. Terima kasih…”

Pak Tomo pun pergi dengan jalannya yang lemah. Gontai.

Jam klasik yang selalu berbunyi di setiap jamnya terpajang indah dengan warna keemasannya. Cukup lama Radit menunggu, sekitar 15 menit kemudian bapak itu datang dengan seorang ibu tua. Itulah istri pak Tomo. Ibu Retno. Radit segera menyalami Ibu Retno.

“Nak Radit, boleh kami tahu tujuan kedatanganmu kesini?” Tanya Pak Tomo.

Radit diam sejenak. Namun dengan tegas ia menjawab.

“Hari ini saya berniat meminang Rena, jika Rena mau menjadi calon istri saya.”

Ibu Retno dan Pak Tomo saling berpandangan. Kemudian…

“Jika kedatanganmu ini untuk meminang anak kami. Maaf, sekarang sudah tidak bisa nak.”

“kenapa? Oh, maafkan saya jika saya lancang tanpa bertanya lebih dahulu. Apakah Rena sudah bertunangan? Atau telah menika-a-a-h…” terdengar suara kekecewaan dari mulut Radit.

Bu Retno menangis dan Pak Tomo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan suara berat, Pak Tomo menjawab…

“Bapak hanya bisa bilang. Bersabarlah… (menarik nafas) Rena, anak kami satu-satunya itu telah menghadap sang ilahi 1 minggu yang lalu.”

Seperti berada dalam sebuah badai besar, mungkin itulah yang dirasakan Radit saat ini. Radit hanya tertunduk lemas.

“almarhumah wafat karena kecelakaan bus dalam perjalanan ke Surabaya. Sebelum meninggal, ia hanya menitipkan ini kepada kami, Rena hanya berpesan untuk memberikan agenda miliknya ini kepada orang yang akan meminangnya jika yang meminangnya itu bernama Radit, maka berikanlah.”

Radit mengambil Agenda berwarna merah bata itu. Ada Rena dengan jilbab berwarna hijau yang tersenyum manis ketika ia buka lembar pertama. Radit sudah tidak sanggup lagi berbicara. Ia pun berpamitan. Sebelum Radit pulang, tidak lupa Pak Tomo memberi tahu dimana letak makam Rena berada. Radit pun pergi setelah mendengarnya. Ia berlari dengan sangat kencang dan seperti mengerti akan perasaan Radit saat itu langitpun tiba-tiba menjadi gelap dan hujan pun turun dengan deras. Gelap. Jendela itu sekarang benar-benar tertutup.

***

Image

2 thoughts on “Sepucuk Surat Untuk Calon Suamiku

  1. KereEn keren aBis,
    buat trharu n nangis…
    DsaAt seseorang pnya prasaAn trhdap seseorg yg lain, pasti sama mrasa mskpun mgkn tak sama.
    Dan tak sdikit trSadar ktika dah tiada….
    TOP Bgt crita y.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s