Strawberry Flavor

Image

Putih abu-abu…

Saat itu masih putih abu-abu…

“Strawberry itu…. Ya, buah stroberi. Merah, bintik-bintik, asem, nyegerin… Tapi… Banyak disuka dan diminati, makanya… Banyak dibutuhin, akhirnya dibudidayakan. Bisa dimakan secara single, dibuat sebagai bahan campuran, hanya perasa, bahkan hanya sebagai pemanis hiasan kue. Padahal jelas-jelas asem. Makanya aku gak suka stroberi. Asem. Mirip kayak kamu. Bedanya, kamu satu-satunya strawberry paling manis dari segala jenis stroberi yang pernah aku coba, makanya aku cuma suka sama stroberi yang satu ini”

Aku hanya menyeringai sebentar dengan tatapan aneh mendengar Alvin berkata seperti itu dihadapanku. Aku langsung menempelkan telapak tangan aku ke dahinya, sambil sok-sok an mengukur suhu badannya.

“Gak demam…” Kemudian aku memegang kedua pipinya dengan kedua tanganku.

“Jo (penggalan dari kata Jo-re = jore = jelek), kamu sadarkan?” kata-ku sambil menepuk-nepuk pipinya. Alvin yang sudah terbiasa dengan tingkahku, hanya menarik nafas panjang dan “FUHHH!!!.” Alvin menghembuskan nafasnya sekaligus tepat di mukaku kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkanku. Kontan saja aku bête. Aku pun segera menyusul langkahnya, menyadari bahwa aku mengejarnya Alvin malah jadi berlari kencang meninggalkan aku. Aku pun berlari sambil berteriak “ALVIIIIIIIIIIINNN….!!!!.”

Angin behembus sangat kencang dan semakin kencang di puncak gunung derajat ini.

***

Alvino Fahrell Muhammad

Lahir di Jakarta, 5 Mei 1984

Anak sulung dari 3 bersaudara. Aku bertemu dengannya tentu saja ketika masih duduk di sekolah menengah atas. Kami hanya berbeda kelas. Aku XI IPA 2 dan dia XI IPA 1. Kami telah saling mengenal sejak acara MOPS SMA. Sejak MOPS hingga kami saling mengenal, tidak ada yang berubah dengannya begitupula denganku. Dia tetap ramah terhadap semua orang termasuk aku. Dia paling suka menggodai teman-temannya dan aku gak suka digoda-godain. Makanya dari awal aku memang terkenal jutek.

Tepat 2 bulan aku masuk kelas XI, tanpa disangka dia menembakku. Tidak ada yang romantis dari seorang Alvin saat itu. Dia mengungkapkan perasaannya ketika aku sedang mengembalikan buku ke kelasnya. Hanya butuh waktu 5 detik untuk aku menjawab IYA dihadapannya beserta para saksi (teman sekelas Alvin). Kelas pun menjadi riuh. Sebenarnya jawaban itu aku pilih bukan karena aku memang menyukainya. Bahkan sebenarnya aku lebih suka sama seniorku yang sedang melihat keriuhan di kelas Alvin. Agar tidak gengsi di lihat gebetan aku itu, aku terima saja Alvin.

Namun dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit Alvin mampu membuatku membangun rasa yang berbeda dari yang sebelumnya. Alvin selalu bisa membuatku tertawa. Dia mampu menghidupkan suasana dan mengakibatkan aku semakin banyak teman. Karena menurut mereka aku terlihat tidak terlalu jutek saat itu. Aku berterima kasih pada Alvin dalam hati.

Satu tahun bersama Alvin, Tuhan berkehendak agar kami terpisah di penghujung sekolah. Disinilah kami belajar untuk lebih saling mempercayai satu sama lain, dan melatih kesabaran. Alvin berhasil menerima beasiswa di Inggris. dia berhasil menggapai cita-citanya untuk bersekolah di luar negeri. Sedangkan aku bertahan di Indonesia, di kampus yang telah menerimaku. Institut Teknologi Bandung.

Alvin hampir saja memutuskan untuk tetap di Indonesia, karena ia tak mau meninggalkan aku. Tapi aku menentang keras keputusannya itu.

“Mau dekat atau jauh sama saja Jo..”, aku jelas menentang keputusannya barusan.

“Sama apanya! Jelas-jelas aku bakal susah ketemu kamu!”, sahut Alvin keras. Baru kali ini aku mendengar Alvin membentak seperti itu. Aku hanya membalasnya dengan sedikit santai meskipun sebenarnya dada ini sudah sangat sesak menahannya.

“Itu sudah pasti Jo… tapi mimpimu itu tinggal sebentar lagi. Jangan kamu gagalin semuanya hanya karena aku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dekat atau jauh, bagiku sama saja. Kalau hati kamu sudah meyakini adanya aku, aku percaya kita akan kembali bersama. Ini bukan perpisahan yang sesungguhnya. Ini hanya sementara! Paling tidak, hanya 4 atau 5 tahun Jo…!!”, aku menatap keras Alvin. “lagipula jaman sudah semakin canggih, aku yakin semua bisa kita atasi bersama..”

Mata Alvin memerah begitu pula denganku. Saat itu aku benar-benar menyiksa mataku. Aku tak mau menangis dihadapan Alvin. Alvin menatapku dalam. Kemudian Alvin mengantarku pulang dengan sepeda motornya. Tak ada kata yang terucap selama perjalananku pulang. Sesampainya di depan rumah. Alvin mengatakan sesuatu dengan nada suara yang pelan. “aku sayang kamu” sambil mengusap-usap rambutku kemudian memelukku sebentar. Inilah pertama kalinya Alvin memelukku. Saat itu aku benar-benar sudah tak sanggup menahan air mataku sendiri. Alhasil airmata itupun tumpah di baju Alvin. Baru aku sadari betapa Alvin sudah benar-benar memasuki ruang terkosongku. Kemudian Alvin langsung pamit pulang. Ketika aku sudah tak melihatnya lagi, aku membalikkan badan dan berjalan menuju pagar rumah, dan lagi-lagi aku menangis. Air mataku tak juga berhenti.

***

(Skype)

Tahun pertama….

“hi!”

“lagi apa Niniku…” (Alvin menggerak-gerakkan tangannya ke camera)

Skype. Ya, aku berkomunikasi lewat skype. Salah satu alternatif agar kantong pulsaku dan dia tidak cepat habis. Meskipun hanya sebentar dan tidak bisa sesering mungkin untuk berkomunikasi lewat skype, karena jam sibuk aku dan dia selalu saling bentrok. Tapi aku bersyukur bahwa teknologi membuat kami merasa tidak terlalu jauh. Meskipun sebenarnya memang jauh… huft..

(Skype)

Tahun ke 4

“Jo…”

“iyaaaa….gimana kabar kamu? Tugasnya sudah selesai semua yang kemaren?”

“alhamdulillah… makasih ya Joo… udah nyemangatin aku… hehee”

“iyaaa sayang, makanya jangan suka nyerah duluan…J :*”

“heheeee”

….

Begitulah seterusnya. Kami menjalani hubungan jarak jauh yang benar-benar sangat jauh ini dengan ikhlas. Kami percaya tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Meskipun banyak orang yang mengatakan bahwa long distance itu sulit, tidak kami sangkal bahwa perkataan mereka itu memang benar adanya. Sulit, tapi kembali lagi ke manusianya. Kami yakin semua akan mudah jika kami meyakini semuanya akan mudah. Meskipun sebenarnya memang terasa sulit di awal perjalan ini. Tapi akhirnya semuanya itu dapat kami tempuh hingga kami mencapai cita-cita kami masing-masing.

Bertemu dengannya seperti melihat bayangan yang sewaktu-waktu bisa menghilang kembali. Hingga di lebaran ke-4 dia pulang dan aku merasa melihatnya semakin berwibawa, dan menurutnya aku lebih terlihat dewasa. Dia meminta doaku agar skripsinya bisa segera selesai, sama halnya dengan Alvin akupun meminta doanya agar sidangku 1 minggu lagi berjalan dengan lancar.

***

5 tahun berlalu sejak aku dan Alvin terpisah, dan akhirnya Tuhan berkehendak agar kami bertemu kembali dan tidak untuk dipisahkan (amiin). Kami benar-benar mengucap syukur atas nikmat kesabaran yang telah Tuhan berikan. Tidak ada pelajaran yang paling sulit selain pelajaran “bersabar” menurutku.

Aku dan Alvin memiliki pekerjaan yang benar-benar saling mengisi. Aku yang bekerja dibidang design graphis, sedangkan Alvin di bidang interior mengakibatkan kami semakin klop. Dua tahun bergelut dengan keasikannya masing-masing. Belum ada tanda-tanda bahwa Alvin akan mengajakku ke arah yang lebih serius, meskipun hubungan kami memang dilandasi keseriusan. Namun aku tak pernah menyindir-nyindir Alvin tentang masalah itu. Aku mengerti posisi Alvin sebagai anak sulung dengan 2 orang adiknya yang masih memerlukan perhatiannya. Lagi pula aku ini kan putri tunggal. Orang tuaku benar-benar percaya dengan pilihanku, sehingga mereka tidak memaksakan aku harus menikah di usia berapa.

Hari ini aku berulang tahun. Sebenarnya aku sudah tidak mau merayakannya. Karena usiaku sudah semakin banyak. Bagiku sekarang, tak ada yang perlu dirayakan lagi dalam usiaku yang semakin banyak. Usiaku mungkin banyak, tapi waktu ibadahku mungkin akan semakin sedikit. Mudah-mudahan aku hidupku selalu diberkahi Allah SWT. Itu saja doa yang palin utama bagiku di ulang tahun ke 26 ini selain doaku untuk keluargaku semua. Namun Alvin memaksaku untuk bertemu siang ini, disaat jam istirahat kantor. Dia mengajakku makan siang bersama. Sama sekali tidak spesial sebenarnya karena aku sudah sering makan siang bersama dengannya. Aku bertemu dia di cafe biasa tempat aku makan siang dengannya. Dia sudah menunggu aku di pojokan kursi yang menghadap ke jalan. Setelah sama-sama memesan makanan. Seperti biasa aku pasti meninggalkannya sebentar untuk pergi ke toillet. Ia pun mengiyakan tak lupa dengan senyumnya yang ringan. Sekembalinya aku dari toilet, aku hanya mendapati sebuah keranjang kecil dengan 8 buah stroberi didalamnya. Aku heran kemana perginya si Alvin. Masa dia ngasih kejutan cuma sama 8 stroberi ini?! Irit apa pelit? Uhhh!

Akhirnya seorang pelayan mendekatiku,

“Maaf mbak, ada titipan pesan dari mas yang tadi duduk disini. Katanya nanti dia datang lagi sekitar 10 menit lagi, dia sedang ada keperluan sebentar.” Aku mengiyakan saja sambil mendengus. ALVIN. Aku kesal padanya. Kenapa dia tidak menghubungiku dulu kalo dia mau pergi sebentar. Aku pun menunggu Alvin sambil memakan stroberi yang ada didepanku. Aku hanya butuh waktu 4 menit untuk menghabiskan 8 buah stroberi itu. Stroberi terakhir telah aku habiskan, tapi Alvin belum juga datang. Jelaslah! Baru juga 4 menit berlalu sedangkan Alvin bilang 10 menit. Aiiih, aku paling tidak suka menunggu. Sambil menunggu si ALVIN datang aku meraih keranjang stroberi kecil yang ada di depanku. Lama-lama aku melihat secarik kertas dengan beberapa tulisan. Aku pun meraih kertas tersebut.

Stroberiku yang cantik, manis dan asem (meskipun sekarang sudah berkurang asemnya). Kau tahu kenapa aku hanya memberimu 8 stroberi? Jika kamu menghitung usia hubungan kita ternyata sudah 8 tahun lebih beberapa bulan loh! Aku juga sempat tidak menyangka ketika menghitungnya. Selain itu seberapa istimewanya angka 8 itu buat stroberi ini? Angka 8 ini tak pernah berujung dan aku berharap kisah kita pun tak berujung. Selamanya hingga nanti. Selamat menempuh usia yang lebih matang ya sayang… sama seperti buah favoritmu, kalo stroberi sudah semakin matang, warnanya pun semakin merona. Semakin cantik, dan rasanya semakin manis dan segar. Sudah waktunya untuk dipetik. Kalau begitu, bolehkah ku petik stroberiku hari ini?”

Tidak lama setelah aku mengulang-ulang kalimat terakhir, terdengar seseorang mengatakan kalimat tersebut dari arah belakangku.

Bolehkahku petik stroberiku hari ini?

Akupun membalikkan badanku yang menjadi kaku. Aku melihat Alvin dengan sorot matanya yang sejuk. Aku pun beranjak dari kursi yang sedang aku duduki. Dia mengulang kembali kalimatnya dengan tegas sambil menyodorkan sebuah kotak terbuka yang berisi sebuah lingkaran mengkilat.

Bolehkahku petik stroberiku hari ini, untuk ku jadikan pelengkap rasa di hidupku?”

Dengan terbata-bata dan haru yang mendalam dan nada yang dibuat secuek mungkin, aku menjawab sambil menenteng keranjang kecil bekas stroberi tadi.

Stroberi yang ada di keranjang ini sudah habis mas. Hanya tinggal satu stroberi yang mampu bertahan untuk menunggu yang pemilik yang terbaik. Maka segera petiklah stroberi itu sebelum akhirnya dipetik oleh yang lain….”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s