Strawberry Flavor Level 2

Kebahagiaan itu merambat hingga ke sebuah ikatan suci, akhirnya segala penantianku kembali ku raih dalam cita.

“…-TUNAI”

“-Saya terima, nikah dan kawinnya Kania Nidya binti Hari Mulyo dengan mas kawinnya yang tersebut TUNAI”

“SAH”

Dari senyum haru yang ku tebar, ku simpan satu kalimat pendek untuknya. I LOVE YOU.

***

“Selamat pagi bundaku yang cantik….”

“Selamat pagi ayah, selamat pagi jagoan kecilku…”

Aku pun meraih bayi yang baru berumur 8 bulan itu dari dekapan ayahnya.

***

“Biarkan aku yang melakukannya…”, aku berusaha meraih sapu dari tangannya.

“Boleh, tapi kalo sudah lelah bilang ayah ya… Bunda gak boleh kecapekan, bunda harus banyak  istirahat…”, jawab Alvin sambil tersenyum tanpa ada raut keberatan dalam dirinya.

“DIO! Ayo sarapan!”, teriak Alvin.

“Iya yah…”, terdengar jawaban dari lantai atas.

Sungguh, meskipun ini sudah berlangsung sejak 12 tahun yang lalu, aku masih merasa bahwa aku menjadi seorang istri yang tidak berguna, tidak bisa menjalankan kewajiban seorang istri pada umumnya. Aku merasa berdosa. Selama berbulan-bulan aku tak mampu mempercayainya. Aku pun tak mampu menerimanya. Aku tak pernah melakukan hal-hal diluar jalan-Mu Tuhan. Tapi mengapa harus aku?!!!

Ini tentang ceritaku 5 tahun yang lalu ketika aku berada dalam sebuah angkutan umum. Andai saja waktu itu aku mau menunggu Alvin sebentar saja yang saat itu sedang pergi mengembalikan tenda bekas kami berkemah mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang ini. Waktu itu di rumahku akan diadakan arisan keluarga, kami sangat antusias menyambutnya. Karena jarang-jarang kami bisa berkumpul sekeluarga besar di rumah kami yang tidak begitu besar. Sehingga aku riweuh sendiri. Aku pun merasa tak mau terlalu merepotkan suami. Aku pun berangkat ke pasar pagi-pagi sekali. Aku berangkat dengan menggunakan kendaraan umum yang biasa lewat di depan rumahku tanpa seizin Alvin. Aku belanja banyak sekali dari pasar. Meskipun aku sendiri, aku sangat ikhlas melakukannya. Aku selsai belanja pada pukul 06.10 dan semua belanjaanku hampir setengahnya memenuhi ruang dalam angkot tersebut. Alhamdulillah, sopirnya tidak keberatan dengan semua perbelanjaanku karena aku pun tahu diri. Aku harus membayar ongkos lebih untuk semua itu. Hanya mampu memuat 4 orang penumpang lagi, angkot pun mulai berjalan. Tak pernah ada perasaan yang ganjil pada saat itu, sampai ketika angkot yang aku gunakan ini sedang melaju kencang tiba-tiba oleng akibat menghindari sebuah sepedah motor dari arah depan yang menyusul sebuah truk. Angkot ini pun menabrak jembatan dan terguling ke sebuah kali yang dangkal. Dengan pertolongan Allah SWT, alhamdulillah dalam keadaan sadar aku mencoba keluar dan berteriak. Aku berteriak dan menangis. Aku pun menggapai tangan seseorang di luar sana. Dia yang mencoba menarikku. Meski tangannya harus terkena serpihan kaca juga yang mengakibatkan tangannya pun sedikit luka dan mengeluarkan darah segar. Aku terenyuh melihat usahanya untuk menarikku dari dalam. Akhirnya dia berhasil mengeluarkanku dari dalam angkot yang terbalik itu. Dua orang tewas saat kejadian itu. Sisanya hanya terkena luka ringan termasuk sang sopir. Aku sangat berterima kasih kepada bapak-bapak kurus yang menolongku saat itu.

Sampai akhirnya aku malah sempat membencinya. Aku tak pernah mengenalnya sampai ia menolongku pada peristiwa tragis itu. Tapi dia telah membuatku terbunuh secara perlahan. Karena lukaku saat itu tak begitu parah, aku pun mengurungkan niatku untuk pergi ke rumah sakit. Hanya ada luka lecet dan sobek kecil di beberapa bagian tubuhku dan kaki ku yang keseleo. Meskipun aku tahu, aku butuh waktu yang lebih lama untuk sembuh tanpa dokter tetap aku jalani. Karena aku berprinsip obat yang dokter beri itu adalah racun maka aku sangat menjauhi hal-hal yang berbau obat meskipun dalam keadaan tertentu suamiku selalu memaksaku untuk meminum obat. Selama dua minggu aku benar-benar istirahat total termasuk istirahat melayani kewajibanku sebagai istri. Aku merasa sangat bersalah karenanya. Tapi Alvin begitu ikhlas dan sabar menjalaninya. Aku sangat bersyukur karena Allah SWT telah menjodohkan aku dengannya. Aku semakin mencintainya.

Setelah aku telah merasa lebih baik, aku pun menjalani general check up dan dari sinilah aku merasa menjadi wanita terburuk sedunia untuk Alvin dan anakku Dio. Dokter itu berkata bahwa ku telah terinfeksi HIV AIDS. Aku sangat tidak mepercayainya. Aku menganggap konyol perkataan itu. Dokter itu pasti sudah GILA atau mungkin Dokter itu seorang Dokter yang bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang terinfeksi HIV AIDS dengan yang tidak terinfeksi. Aku sangat tidak mempercayainya. Begitu pula dengan Alvin. Alvin sangat mempercayaiku. Hidupku selalu bersih dan berjalan sejalan dengan jalan yang disukai Allah. Aku tak pernah melakukan hal-hal yang yang dibenci Allah SWT. Aku selalu menjauhinya. Aku dan Alvin pun tidak begitu saja mempercayai Dokter itu. Aku mencoba mengeceknya ke tempat lain dengan dokter yang berbeda. Hasilnya ternyata…. SAMA. Aku telah terinfeksi HIV AIDS sejak sekitar 13 hari yang lalu. Seperti mendapat hantaman keras melebihi kecelakaan di angkot kemarin, ragaku seakan-akan tak bernyawa karena seluruh nyawaku melayang-layang tak mampu lagi mengisi raga ini. Aku tak sanggup diriku sendiri. Apalagi ketika aku melihat Alvin menitikkan air mata tanpa memandangku waktu itu di dalam mobil kami selesai check up di rumah sakit ke-7 yang kami datangi. Aku tak mampu lagi harus berbuat apa. Rasanya ingin mati saja ketika aku melihat suamiku sendiri di sampingku menangis tersedu-sedu sambil memegang setir dihadapannya. Aku pun tak dapat menahan kesedihanku melihat suamiku seperti itu. Itu kali pertamanya aku melihat Alvin begitu terpukul dengan peristiwa ini. Ya Allah, ya Tuhanku… Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa padaku? Apa yang telah aku lakukan sehingga engkau murka dan membuatku seperti ini…!!! Aku sudah tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku sudah tak berguna. Semua mimpi indahku membangun keluarga kecil telah hancur seketika. Oh suamiku… Alvin, Maafkan aku…

***

Akhirnya semua terjawab sudah ketika aku dan Alvin menyelidiki mengapa aku bisa terinfeksi penyakit terburuk yang pernah aku dapat. Aku ingat ketika seorang bapak yang menolongku ketika aku kecelakaan. Satu bulan setelah aku mendapati diriku benar-benar terinfeksi HIV AIDS dalam pencarianku terhadap bapak-bapak yang menolongku itu, aku mendapati kabar bahwa beliau telah wafat beberapa hari yang lalu. Beliau wafat akibat penyakit yang telah menginfeksiku sekarang. Maka aku ingat ketika tangannya ikut terluka dan akhirnya mengucurkan darah segar yang mengenai lenganku yang sobek juga akibat goresan kaca-kaca yang pecah dan aku tak menyadari hal itu akan membuatku terinfeksi seperti sekarang.

Seandainya lenganku tidak robek mungkin aku tak akan mendapati penyakit ini.

Seandainya waktu itu aku mau menuruti keinginan Alvin untuk membawaku segera ke Rumah Sakit mungkin penyakit itu masih bisa dihambat.

Seandainya aku mau menunggu Alvin sebentar saja menunggunya mengembalikan tenda, mungkin semua kejadian ini tak kan terjadi. Seandainya,… Oh… Aku teringat bahwa pagi sebelum kejadian kecelakaan itu aku tidak meminta izin pada Alvin! Ya, aku berangkat tanpa seizinnya! Mungkin semua hal buruk ini tak kan pernah terjadi. Oh Tuhaaan… Inikah yang kau maksud dengan kesalahanku. Inikah yang telah membuat-Mu kecewa terhadapku!

***

“Ayah…,” dalam lirih di pembaringanku, aku memanggil suamiku yang sedang mempersiapkan barang-barang untuk presentasinya besok. Namun sepertinya dia tak mendengarnya sampai aku memanggilnya untuk kedua kalinya. Ia baru menoleh dan menghampiriku, duduk disampingku.

“Alvin…”

“Ya Bunda…” tangan Alvin begitu hangat ketika menentuh kakiku yang dingin. Aku begitu terharu ketika dia masih memanggilku Bunda. “Kamu sudah tahu aku tak mungkin bisa menjadi semakin sempurna untukmu. Aku bukan lagi Kania yang dulu yang sehat dan bisa melayanimu seperti wanita-wanita lainnya. Karena aku tak membagi aibku ini untukmu. Untuk suami yang begitu baik, yang sangat ku cintai.”

“Aku tak mau mendengarnya lagi…” Alvin berusaha beranjak dari sampingku. Tapi aku mencoba menahannya.

“Dengarkan aku dulu sebentar saja…” akhirnya aku berhasil menahan Alvin untuk pergi. Dengan suara yang terbata-bata aku melanjutkan kalimatku yang sempat terpotong.

“Karena kecintaanku padamu tak kan melebihi cintaku pada Allah SWT Tuhanku yang juga Tuhanmu. Aku sudah tak mampu menjalankan kewajibanku dengan baik. Dengan cinta yang tulus, ikhlas, aku meridhoimu untuk mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku ikhlas jika aku harus menjadi isteri tua untukmu ataupun menjadi mantan isterimu…”

Air mataku mengalir meskipun tak begitu deras. Namun sepertinya hati ini begitu sesak menahan rasa sakit yang ku alami. Melebihi penyakit yang telah menyerangku ini. Aku melihat Alvin. Menunggu tanggapannya akan ucapanku. Aku melihatnya sama seperti saat aku berpisah sangat lama ketika ia harus kuliah di luar negeri. Dia menggenggam tanganku, kemuadian mulai menarik nafas panjang.

“Apaan sih, jangan suka ngawur gitu deh. Nanti jadi kenyataan loh….” ucap Alvin sambil tertawa mencoba mencandaiku. Tangannya mengelus-elus rambutku yang masih terurus dengan baik.

“Aku serius Vin”

“Aku juga,” jawab Alvin pendek.

“Aku ikhlas untuk dimadu atau menjadi mantan is-“

“CUKUP!!!” Genggaman tangannya bertambah keras.

“Kania Nidya binti Hari Mulyo. Sudah berapa kali aku bilang! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu! Bahkan mencari PENGGANTIMU! Meskipun keadaannya seperti ini! Aku mencintaimu. Jika kamu menderita aku pun akan merasakan hal yang sama. TAK AKAN PERNAH ADA YANG AKAN MENGGANTIKANMU!”

Ku sadari permintaanku tadi memang bukan permintaanku yang pertama. Tapi tetap saja aku merasa tidak bisa menjadi isteri yang baik. “Aku hanya-“ aku mencoba menjelaskan kembali tapi Alvin memotong ucapanku.

“Kamu sudah cukup sempurna untukku. Kania dan Dio…” Alvin memelukku begitu erat begitupun denganku. Perasaan kami begitu membuncah saat ini. Dibalik semua kepedihanku, ketidak terimaanku terhadap takdir ini sebelumnya hingga aku mampu menerimanya, aku begitu bersyukur kepada Allah SWT telah memberiku suami yang begitu sempurna untukku. Rasa asam manis terakhir dari stroberi yang telah terbelah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s