Cause We Love U …

Ada kisah, dimana semuanya berjalan searah dengan hidup. Ada cinta, persahabatan juga cita. Semuanya bergabung dan bersatu menjadi kehidupan yang menarik, baik itu menjadi kebahagiaan, kebanggaan, kesulitan, dan kepedihan. Seluruh umat manusia pasti merasakan hal itu.
Apa yang terjadi bilamana diantara cinta, persahabatan dan cita menjadi pilihan?
Hal inilah yang terjadi pada persahabatan kami. Kami bukanlah suatu kelompok tertentu atau pun sesuatu yang disebut ’genk’. Kami bukanlah itu. Kami hanya sering jalan bersama, berdiskusi, bertukar pendapat bersama, tanpa membuat peraturan-peraturan tertentu. Karena yang disebut diatas, kami bukanlah ’genk’.
Ketika salah satu dari kami sedang mengalami kesulitan, dengan senang hati kami langsung membantu semampu kami. Saya sendiri merasakan kebersamaan itu sangat berarti. Bila ada yang melakukan suatu kekhilafan, kami tak segan lagi untuk menegur dan mengingatkan.
Hingga suatu hari….
Kami menyadari ada yang salah dengan hubungan tali kasih salah seorang dari kami. Diluar sepengetahuannya kami membicarakan dia dengan maksud ingin memberi pendapat dan pencerahan untuknya. Mungkin saja pemikiran kami benar. Saat yang ditunggu-tunggu pun hadir, kami menyebutnya ’sidang’. Namun bukan bermaksud untuk menghakiminya, tapi lebih kepada memberi opini dan komentar yang mungkin bisa menjadi masukan baginya. Itu pun bila ia menerima, tidak pun, kami tak mengapa. Karena kami sudah dewasa-dewasa. Masing-masing memiliki hak privasinya sendiri.
Setelah dibicarakan, dengan sendirinya ia menerima pendapat kami. Namun tanpa diduga, kami pikir langkah yang telah ia ambil sangat terburu-buru. Hingga akhirnya sampai saat ini masalahnya tidak selesai dan malah membawa kami. Secara tidak langsung kami terhitung terlibat dalam masalahnya. Semakin lama semakin mengeruh. Sedangkan pihak yang kami mohon baik-baik untuk dapat berbicara bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman malah tidak menanggapi keseriusan kami. Akhirnya, masalah tak berujung. Dan kami kehilangan sahabat kami tersebut. Ia menjadi sama seperti pihak ’x’ tersebut. Kedewasaan yang dimilikinya dengan cepat menghilang dari dirinya. ’childish’. Kini kami menanggapinya begitu (maaf sebelumnya). Dia tak lagi seperti dulu. Bukan karena sekarang ia berteman dengan siapa, karena dari awal kami memang berteman banyak. Tapi memang jelas kenyataannya bahwa kini dia mulai menjauhi kami. Ketika bertemu pun, teguran, sapaan, senyuman, ataupun ketika sedang jalan, kami menyadari bahwa hal tersebut bukan dari hati. Ada keterpaksaan karena tidak ingin disebut berubah, ada sesuatu hal yang terus ia sembunyikan dari kami atau apapun lainnya.
Jelas kami sedih dengan keadaan ini. Kami kehilangan sahabat yang dulu selalu tertawa bebas. Tak ada lagi tawa riang yang nampak dihadapan kami. Senyum manis yang selalu menerangi wajah kami. Kami sungguh kehilangan…
Maaf bila kami mungkin menyakiti. Tapi kami pun kini tersakiti olehnya dan ’x’.
Kami sendiri berkaca. Belum tentu memang kami yang benar. Mungkin dasar pemikirannya yang benar, dan kami yang salah. Kami telah berusaha menjadi sahabat yang baik. Bila mungkin menurutnya kami bukanlah sahabat yang baik untuknya, kami terima.  Biarkan kami tetap menjadi sahabat yang baik baginya, meski ia mungkin lambat laun akan semakin menjauh dan tak kan lagi membutuhkan kami lagi. Ikhlas…
Alhamdulillah cerita di atas kini telah usai dan berganti cerita menjadi cerita yang lebih indah. Semoga sakinah, mawaddah warohmah teman,,,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s